PULANG "akankah aku menjadi rumah setelah petualanganmu selesai?" (Renjana, 111-114) Nanti saat aku dan kamu sudah kuliah dengan kampus yang berbeda, kita menjalani hubungan jarak jauh yang terasa menyiksa. Aku akan terkagum-kagum saat kamu datang ke kampusku yang jauh dari kotamu hanya untuk membawa obat saat aku sakit, menemaniku mencari buku referensi untuk mengerjakan tugas dosen yang tidak berperikemanusiaan, mengajakku menonton sebentar dan menghabiskan sore sebelum kamu pulang ke kotamu. Lalu aku akan menangis mengantarmu pulang di stasiun kereta. Merasakan tangan lembutmu yang mengusap air mataku, dengan tatap yang seakan meyakinkan bahwa kamu akan datang lagi kesini jikalau ada waktu senggang. Lalu aku melambaikan tangan saat kamu mulai melangkah memasuki keretamu. Kamu memang tidak pernah menangis didepanku. Tapi aku tahu bahwa rasa yang tidak pernah ditunjukkan dan diucapkan secara gamblang justru itula...