PULANG
"akankah aku menjadi rumah setelah petualanganmu selesai?"
(Renjana, 111-114)
Nanti saat aku dan kamu sudah kuliah dengan kampus yang
berbeda, kita menjalani hubungan jarak jauh yang terasa menyiksa. Aku akan terkagum-kagum saat kamu datang ke kampusku
yang jauh dari kotamu hanya untuk membawa obat saat aku sakit, menemaniku
mencari buku referensi untuk mengerjakan tugas dosen yang tidak
berperikemanusiaan, mengajakku menonton sebentar dan menghabiskan sore sebelum
kamu pulang ke kotamu. Lalu aku akan menangis mengantarmu pulang di stasiun
kereta. Merasakan tangan lembutmu yang mengusap air mataku, dengan tatap yang
seakan meyakinkan bahwa kamu akan datang lagi kesini jikalau ada waktu
senggang.
Lalu aku melambaikan tangan saat kamu mulai melangkah memasuki keretamu. Kamu memang tidak pernah menangis didepanku. Tapi aku tahu bahwa rasa yang tidak pernah ditunjukkan dan diucapkan secara gamblang justru itulah yang paling dalam.
Keretamu melaju, aku berbalik badan. Lalu kurasakan getar handphone dibalik saku celana.
“Jangan menangis ya. Cepat selesaikan kuliahmu. Akupun begitu. Nanti aku akan segera mencari kerja lalu melamarmu. Sampai berjumpa lagi ya, bidadari”.
Satu garis lengkung tercipta dibibirku. Kamu memang paling hafal bagaimana cara membahagiakan. Memberi kejutan-kejutan kecil yang membuatku merasa seperti seorang paling berharga. Aku lekas mengusap pipiku yang basah. Air mata sayu dan haru kian menyatu. Aku akan merasa senang karena bisa menghabiskan waktu bersamamu.
Lalu, waktu demi waktu kita lewati dengan keadaan yang terus seperti itu. Menghadapi berbagai permasalahan yang membuat kita semakin dewasa. Aku ingin kamu terus menemaniku. Selamanya. Menemaniku saat wisuda pertama, memberikanku buket bunga yang paling aku suka. Menemani dan terus mendukungku kala lamaran kerjaku ditolak berkali-kali, menemaniku disetiap langkah kaki.
Begitupun denganku, aku ingin tetaplah aku yang ada dihatimu. Aku yang akan mengucap selamat pertama kali saat skripsimu diterima. Yang berfoto berdua denganmu saat kamu menggunakan toga. Yang mengantarmu kala menemui klien pertama, menemanimu menyelesaikan pekerjaan yang terkejar deadline hingga harus begadang larut malam. Membuatkanmu kopi atau teh hangat saat kantukmu mulai menyerang. Aku ingin menjadi orang yang selalu ada saat jatuh dan bangunnya hidupmu. Sudah, hanya itu.
Namun, mimpi itu harus terhempas jauh sebelum satu adegan pun terealisasi. Harus ditepis saat kamu memutuskan untuk mengakhiri.
Kita telah benar-benar selesai. Ada kenyataan yang memang harus aku terima, saat waktu yang sudah berlalu tanpa adanya aku dan kamu didalamanya, aku harus bisa menjauhi hal-hal yang sering membawa ingatan kembali pada masa silam. Meski harap untuk kembali mengulang tidak pernah padam, tapi saat semua sudah diluar kendali diri aku bisa apa? Hanya dapat menerima kala ada tangan lain yang sudah kamu tuntun begitu dekat, ada tubuh yang sudah kamu peluk begitu hangat, ada mata yang sudah kamu tatap lekat-lekat dan ada hati yang sudah kamu genggam erat-erat.
Aku benar-benar tidak bisa jika kamu sandingkan dengan banyaknya orang. Aku hanya punya sedikit ilmu untuk bertahan hidup. Untuk memikirkan bagaimana aku bisa memposisikan diriku dengan berbagai kenyataan yang kadang tidak sejalan dengan harapan. Menunggumu pulang, misalnya. Aku harus benar-benar paham kapan aku masih bisa terus berdiam, kapan aku harus berhenti dan mengatakan ingin lanjutkan perjalanan meski tanpa ada kamu sebagai teman tualang.
Seperti itulah takdir bermain, aku tidak pernah tahu akankah
tokoh ‘aku’ dimimpi itu memang benar akan diperankan olehku. Atau mungkin, itu
akan menjadi miliknya yang entah akupun tak tahu siapa. Aku benar-benar tidak
tahu. Apakah ini pertanda batas selesai untuk menunggumu pulang, sayang?
Komentar
Posting Komentar