Langsung ke konten utama

SYAIR PAYODA

 

SYAIR PAYODA

(Petinggi Yang Tak Tahu Kendali)


Di bagian ini ada sebuah tanya yang entah kapan dan dimana bisa ditemui jawabnya. Dengan segala usaha, berharap saban hari gamang yang terus terngiang-ngiang segera menghilang. Sudah tidak kuasa menempa rasa yang tak jelas rupanya, jenisnya, isinya, bentuknya bahkan adanya.  Ketika harap diri saja yang dipunya, kiranya tidak begitu mengkhawatirkan karena segala risiko dirilah yang menanggungnya. Tapi ketika terdapat harapan orang lain yang bergantung pada kita, seakan beban yang diterima jauh lebih berat dari biasanya. Saya pernah mendengar dan meyakini bahwa cara paling aman untuk meringankan diri adalah dengan tidak berharap pada siapapun dan tidak menanggung harap siapapun. Cara paling aman untuk menghindari sebuah patah adalah dengan tidak mempunyai tanggung jawab membahagiakan seseorang dan dibahagiakan seseorang. Sebuah timbal balik yang harusnya terisi oleh saling dan seimbang. Namun saya tahu, tidak pernah ada yang benar-benar sama bahkan ketika ditakar. Akan ada satu yang jauh lebih besar atau unggul dalam setiap hal. Dan saya juga tahu, sebagai manusia yang hidupnya tak mampu sendirian tentunya terlibat  dengan orang lain adalah kewajaran dan kewajiban. Karena sekeras apapun menolak, yang datang akan tetap datang. Sekuat apapun menahan, yang beranjak memang sudah seharusnya dilepaskan.

Saya bukan seorang pengendali penuh. Saya bisa mengatur apa yang saya lakukan, tapi saya tidak mampu mengendalikan apa yang saya rasakan. Sebab sesuatu yang semu, hanya Tuhanlah yang tahu. Saya paham bagaimana saya bisa memperlakukan orang lain, tapi saya tidak mampu memesan bagaimana orang lain memperlakukan saya dengan segala angan yang mereka genggam.

Dengan segala tanya yang mereka taruh dalam diri  saya, saya ragu karena yang akan mereka dapatkan hanyalah kekosongan. Sebab yang mereka pertaruhkan tidak sebanding dengan jawaban yang saya punya. Sebab yang mereka impikan, tidak sejalan dengan kenyataan-kenyataan yang saya tempa. Namun bagaimana diri ini mengucapnya?

Oktober, 2021.

Komentar

  1. Mengendap dan menyalahkan diri sendiri itu tidak serta merta aman dari lingkup rasa. Seperti api membakar lilin, terlihat normal dari luar, namun seiring waktu ia menghabiskan dirinya sendiri, yaitu jati dirinya

    Berbagi rasa dan bertukar cerita dengan orang lain, gak akan habis habis. Laksamana cahaya, pagi siang malam itu terus membersamai dalam rasa sendu, lesuh dan gamang

    Top markotop!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aduh ga sadar dikomen yg lebih mantap. Hatur nuhun tum🙏

      Hapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

BATAS

- BATAS- (Bagaimana untuk aku mampu menembusnya) Untuk kali pertama, aku benar-benar merasa…ingin menyerah. Banyak tempat pulang disana. Memeluk, menenangkan, melegakan. Terkadang menyalurkan energi, hingga lelah itu sendiri. Sampai kapan mereka mampu kokoh menaungi? Sampai kapan mereka teguh melindungi? Akankah harapan itu memiliki ruang? Bersama tenaga, usia, dan waktunya yang ikut berkurang. Bagaimana tempat pulang menanggapi badai di luar? Bagaimana sebuah tempat pulang menjelaskan rusaknya jalan? Sedangkan ia hanya mampu melihat, mendengar tanpa merasakan. Bagaimana, aku menjelaskannya? Pada akhirnya, apa yang aku punya hanya setumpukan tanya. Lagi. Jelaskan bagaimana bisa setiap tujuan memiliki batasan dan patokan?   Bagaimana bisa semesta menciptakan garis tujunya sendiri? Bukankah menjadi bahagia jauh lebih penting dari tujuan itu sendiri? Banyak yang memberikan doa dan harapannya dengan kalimat yang begitu merdu dan manis, namun tidak ada satupun yang mampu membuat gar...

TANYA

  TANYA (Pada Nama Diri yang Samar) Sejak awal tulisan ini lahir, yang dibayangkan hanyalah celah dimana cahaya dapat masuk meski tuan rumah tidak membuka jendela beserta tirainya, tidak membuka pintu bahkan kuncinya. Bagaimana dan siapa yang mempunyai tenaga untuk mampu menembus benteng yang sejak mula sudahlah berdiri kokoh tanpa aba-aba. Diri yang tercecer mencari bentuk yang sesungguhnya, sedang tiada satupun petunjuk atau yang mampu ditunjuk tuk menuntun dirimbanya tanya. Ada sedikit yang menggelitik memaksa agar tanpa malu mengutarakan pada semesta. Namun kekuatan darimana yang dipunya untuk melawan kerasnya ia? Jika tanpa pegangan? Tanpa penopang? Tanpa teman yang menggenggam tangan agar tak tergelincir hingga jatuh begitu dalam. Atas nama diri yang samar, kutantang siapapun yang mencoba mengetuk. Terlalu banyak kekosongan yang didapat dengan mengikuti aturan yang dibuat manusia. Hingga mendapati suatu ujung yang selalu sama saja. Sampai lapisan keberapa mereka mampu...