TANYA
(Pada
Nama Diri yang Samar)
Sejak awal tulisan ini lahir, yang
dibayangkan hanyalah celah dimana cahaya dapat masuk meski tuan rumah tidak
membuka jendela beserta tirainya, tidak membuka pintu bahkan kuncinya.
Bagaimana dan siapa yang mempunyai tenaga untuk mampu menembus benteng yang
sejak mula sudahlah berdiri kokoh tanpa aba-aba. Diri yang tercecer mencari
bentuk yang sesungguhnya, sedang tiada satupun petunjuk atau yang mampu
ditunjuk tuk menuntun dirimbanya tanya.
Ada sedikit yang menggelitik memaksa
agar tanpa malu mengutarakan pada semesta. Namun kekuatan darimana yang dipunya
untuk melawan kerasnya ia? Jika tanpa pegangan? Tanpa penopang? Tanpa teman
yang menggenggam tangan agar tak tergelincir hingga jatuh begitu dalam.
Atas nama diri yang samar, kutantang
siapapun yang mencoba mengetuk. Terlalu banyak kekosongan yang didapat dengan
mengikuti aturan yang dibuat manusia. Hingga mendapati suatu ujung yang selalu
sama saja. Sampai lapisan keberapa mereka mampu menggoda? Siapa yang mampu
memecahkan rekornya? Seperti sebuah sayembara dibalik sederhananya satu karsa.
Tidak peduli ratusan kali mencoba jika
masih tidak bisa, kusebut makna yang berharga. Belum menyentuh titik temu
bukanlah alasan tuk berhenti merayu. Hingga ilusi atau mimpi setidaknya
memberi kisi-kisi. Hingga marcapada akhirnya berhenti bercanda. Sebab diri yang ditempa
tanpa jeda, tetap memiliki renjana yang meminta tuk direngkuh dengan penuh dan
seluruh.
Dibawah bentangan langit. Disamping
dinding-dinding putih sudut ruangan. Atau dari bilik-bilik penjuru bumi. Satu kata
kiranya mampu wakilkan semua yang
berkecamuk, mengamuk, meremuk.
“Kenapa?”
…
November, 2021.
Komentar
Posting Komentar