(Bagaimana untuk aku mampu menembusnya)
Untuk
kali pertama, aku benar-benar merasa…ingin menyerah. Banyak tempat pulang
disana. Memeluk, menenangkan, melegakan. Terkadang menyalurkan energi, hingga
lelah itu sendiri. Sampai kapan mereka mampu kokoh menaungi? Sampai kapan
mereka teguh melindungi? Akankah harapan itu memiliki ruang? Bersama tenaga,
usia, dan waktunya yang ikut berkurang. Bagaimana tempat pulang menanggapi
badai di luar? Bagaimana sebuah tempat pulang menjelaskan rusaknya jalan? Sedangkan
ia hanya mampu melihat, mendengar tanpa merasakan. Bagaimana, aku menjelaskannya?
Pada
akhirnya, apa yang aku punya hanya setumpukan tanya. Lagi.
Jelaskan
bagaimana bisa setiap tujuan memiliki batasan dan patokan? Bagaimana bisa semesta menciptakan garis
tujunya sendiri? Bukankah menjadi bahagia jauh lebih penting dari tujuan itu
sendiri? Banyak yang memberikan doa dan harapannya dengan kalimat yang begitu
merdu dan manis, namun tidak ada satupun yang mampu membuat garis lengkung di bibir
tercipta ketika mendengarnya. Hal itu, hanya semakin memupuk beban yang aku
bawa. Tidakkah setidaknya, mereka mendoakan agar aku bahagia…di sepanjang
jalannya? Tidakkah setidaknya, mereka menanyakan keadaanku…dalam meraihnya?
Di
tempat dan ruang yang asing-dingin, aku hilang pandang. Aku membuka mata namun
kabutnya terlalu tebal. Aku menutup mata namun terlalu sukar untuk meraba
jalan. Aku bagaimana, ya? Aku tidak kehilangan kekuatan, aku mampu melakukannya
namun digerogoti ketakutan; yang dengan segala rupanya, merusak-membunuh-melenyapkan.
Jakarta, 26/09/24.
Komentar
Posting Komentar