Langsung ke konten utama

PULANG (Sebuah Salam Perpisahan Anya dan Sammy)

 

PULANG 

“kamu hanyalah percikan dari rangkaian perjalanan. Bukan rumah, yang seharusnya menjadi tempat pulang setelah petualangan selesai”

 

Di pekatnya malam bertabur bintang, Anya menyalakan kembang api sendirian. Ia sengaja memasang tenda dan menyalakan api unggun di halaman rumahnya seperti biasa. Ia kembali dihujami ingatan akan patah yang kian parah serta pasrahnya yang tak tentu arah. Apa yang menimpanya sekarang, membuatnya sadar bahwa kepergian dan kedatangan memang akan terus terjadi selama ia masih hidup di muka bumi. Tak dapat dihindari, pun tak dapat memilih mati. Itu malah akan membuatnya menjadi manusia bodoh disini. Ia tahu yang ia perlukan sekarang hanyalah sebuah kelapangan, sebuah penerimaan.

Pada percikan pertama kembang api miliknya, ia menaruh harapan akan kabar yang membaik. Kembali membaik seperti nyalanya api didepan matanya kini. Tapi semoga setelah membaik tidak cepat hilang seperti padamnya kembang api ditangan.

Tapi ia tahu, bahwa yang menyala memang akan padam. Dan yang padam, akan berusaha tuk dinyalakan. Untuk mampu menerangi meski tak tentu hitungan jam.

Anya merasakan getar handphone di balik saku jaketnya.

“Nya.. maaf,” terdengar suara lirih seorang perempuan dibalik telepon.

“untuk apa, Ren?,” tanya Anya heran.

“untuk tidak mencegahnya, untuk tidak memberitahumu sedari awal, untuk tidak membiarkanmu  jatuh kesekian kalinya,” ucap Rena semakin dalam. Sebagai seorang sahabat,  Rena begitu menyesal karena membiarkan Anya jatuh lebih dalam kepada seseorang yang tak tepat. Rena hanya tak mampu merusak tiap momen bahagia yang Anya punya saat itu.

“tak apa.  Mencegah bagaimanapun, jika ini yang harus terjadi kita bisa apa?,” jawab Anya berusaha tenang.

“Nya.. tadi aku  ketemu dia. Dia bilang mau ketemu kamu di rooftop besok sore,”

Anya mengakhiri sambungan teleponnya. Ia memeluk lututnya.  Membenamkan kepalanya. Ada sesak yang kian  menjalar tak tertahan. Tak ada yang mampu ia lakukan selain berharap bahwa waktu mampu segera menghapus jejak-jejak yang sudah tak layak tuk terus berputar di otak.

Ia pun menghapus tiap butir air yang jatuh dari pelupuk mata. Mengambil sebuah foto polaroid hitam putih dari dalam  tenda. Ia menatap lekat sebuah gambar yang tertera, gambar dirinya dengan seorang pria yang akhir-akhir ini mampu mencetak garis lengkung dibibirnya. Garis lengkung kebawah yang tiba-tiba berubah menjadi lengkungan keatas. Secepat kilat. Secepat ia mampu menggebu hanya karena sorot mata prianya. Mantan pria mungkin lebih tepat. Ia tak dapat lagi menambahkan imbuhan kepemilikkan disana, setelah sebuah kenyataan pahit menamparnya. Membuatnya harus melepaskan sebuah genggaman yang  selama ini ia eratkan.

Dengan tetap berusaha menahan letupan kecewa dalam batinnya, Anya merobek foto digenggamannya. Ia harus jauh lebih berani untuk memulai hari dengan lebih baik lagi. Ia harus mengambil langkah besar untuk mampu keluar dari jurang ini.

Anya pun membakar robekan foto yang telah mengecil itu. Membiarkannya mengabu dan terbang setelah api unggunnya padam. Biarlah, biar hilang bersama rasanya sekarang.

Esok harinya, setelah berpikir semalaman, ia memutuskan untuk memberanikan diri menemui pria itu. Sebagai salam perpisahan mungkin? Atau hanya untuk memastikan bahwa pria itu benar-benar bahagia dengan keputusannya? Keputusan yang Anya rasa tidak adil baginya, namun tetap ia setujui karena tak ada lagi yang mampu dilakukannya.

Tiba di rooftop, Anya melihat seorang pria tengah melihat pemandangan di bawah sana. Dengan semilir angin yang menggoyang-goyangkan rambut hitam berpomade aroma permen karet yang sering Anya cium kala ia menaiki motor milik pria tersebut.

Anya pun berjalan gontai menghampirinya, suara langkah sepatu miliknya menyadarkan pria tersebut hingga pria itu langsung membalikkan badan. Mereka berhadapan saat ini. Seolah ada tembok besar yang membuat Anya tak mampu memeluk pria itu seperti biasa ketika bertemu. Mereka berdua pun hanya diam cukup lama.  

“Anya...” pria tersebut membuka suara

“Ucapkan semua yang ingin kamu sampaikan, Sam! Saya masih menghargaimu dengan mau bertemu disini,” ucap Anya lantang.

“Nyaa.. gue minta maaf. Gue tahu ini berat buat  lo,” ia meraih tangan Anya namun segera Anya tepis.

“kalau kamu  tahu ini berat buat saya, dan tahu akhirnya akan seperti ini, kenapa kamu paksakan saat kamu tahu perasaan kamu gak pernah sungguh?”

“Nyaa.. sorry?” ucapnya lirih

“Pulang, Sam! Pulang! Saya bukan rumah kamu dan kamu bukan rumah saya,”

“tapi, Nya.. jangan pernah nyeselin yang pernah terjadi, ya?”

“saya gak menyesal. Saya hanya kecewa. Kadang saya bertanya-tanya, buat apa kamu datang berwibawa sebagai seseorang yang menyembuhkan luka tapi pada akhirnya menoreh luka yang jauh lebih parah dari luka sebelumnya,” ucap Anya dengan gemetar.

“maaf Nya, gue gak tahu kalo perasaan gue bisa seplin-plan ini,” ucapnya penuh sesal

“Pulang, Sam! Saya bukan yang terbaik buat kamu dan kamu bukan yang terbaik buat saya. Saya cukup sadar akan  hal itu. Dan tolong jangan pernah  ada  kata ‘apa kabar’ lagi! Saya ikhlasin kamu, Sammy! Pulanglah! Ada seseorang yang menunggumu kembali,” tegas Anya.

“tapi... kita tetap teman, kan?” tanya Sammy penuh pengharapan

Anya mengalihkan pandangannya. Tak mampu menatap sorot mata pria didepannya. Ia menggigit bibir atasnya. Ada seseuatu yang ia tahan-tahan untuk tak tumpah disini.

“setelah hal pahit terjadi, saya rasa semua orang tidak akan bisa ke posisi semulanya lagi. Begitu juga dengan saya. Maaf, Sam!”

Anya membohongi dirinya sendiri. Ia ingin sekali kembali pada posisi sebelum semuanya terjadi. Sebelum dimulai. Saat ia dengannya masih mampu berbincang layaknya teman. Tapi ia tak mampu. Ia harus menatap kedepan saja mulai sekarang. Tak akan mengulang-ulang yang akan membayangi pikiran.

“ohh oke, Nya! Terserah kalo ini yang lo mau!,” ucap Sammy dengan intonasinya yang meninggi.

“ini bukan yang saya mau, Sam! Kamu sendiri yang membuat alurnya seperti ini,” Anya pun tak tahan lagi. Ia tersulut emosinya.

“tapi kan.....” Sam berusaha mengelak.

“sudahlah, Sam! Saya sedang tidak mau berdebat.” potongnya.

“oke, Nya. Gue pamit. Makasih udah mau dateng,” ucap Sammy mengalah

Sammy pun membalikkan badan. Mengambil langkah pertamanya untuk meninggalkan Anya. Ia pun pulang menuju rumahnya yang pernah lama ia tempati. Rumah yang akhir-akhir ini ia tinggalkan hanya karena bosan dan ingin melihat pemandangan luar. Singgah di penginapan dekat pantai kota Jakarta.

Anya paham, sangat paham. Ia paham sekarang. Mendengar kata singgah saja, sudah membuatnya mengerti bahwa selama dengan Sammy, ia terkejar-kejar waktu yang nakal. Yang tidak mau memberinya sedikit ruang untuk mampu bernafas lebih lega dari sesaknya yang biasa.

Sammy hanya singgah. Anya terlampau jatuh. Jauh. Luluh. Teramat sungguh. Anya pun memperhatikan langkah terakhir Sammy didepan matanya, yang menghilang bersama senja yang larut di sudut kota Jakarta, ditengah hiruk-pikuk jalan yang dipenuhi pengendara yang berlalu-lalang.

“Pulang, Sam! Pulanglah!”

Lirih kata terakhir yang mampu Anya ucap sebelum akhirnya ia tertunduk. Memejamkan matanya lalu jatuh butir bening dari pelupuk mata yang sejak tadi ia tahan untuk tak tumpah didepan pria tersebut. Ia memejamkan matanya. Berharap semua yang terjadi hanyalah mimpi. Atau berharap bahwa ia kan kehilangan sebagian memori.

Apapun yang terjadi, akhinya Anya tahu, luka akan selalu mampu mendewasakannya.

 

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

SYAIR PAYODA

  SYAIR PAYODA (Petinggi Yang Tak Tahu Kendali) Di bagian ini ada sebuah tanya yang entah kapan dan dimana bisa ditemui jawabnya. Dengan segala usaha, berharap saban hari gamang yang terus terngiang-ngiang segera menghilang. Sudah tidak kuasa menempa rasa yang tak jelas rupanya, jenisnya, isinya, bentuknya bahkan adanya.  Ketika harap diri saja yang dipunya, kiranya tidak begitu mengkhawatirkan karena segala risiko dirilah yang menanggungnya. Tapi ketika terdapat harapan orang lain yang bergantung pada kita, seakan beban yang diterima jauh lebih berat dari biasanya. Saya pernah mendengar dan meyakini bahwa cara paling aman untuk meringankan diri adalah dengan tidak berharap pada siapapun dan tidak menanggung harap siapapun. Cara paling aman untuk menghindari sebuah patah adalah dengan tidak mempunyai tanggung jawab membahagiakan seseorang dan dibahagiakan seseorang. Sebuah timbal balik yang harusnya terisi oleh saling dan seimbang. Namun saya tahu, tidak pernah ada yang be...

BATAS

- BATAS- (Bagaimana untuk aku mampu menembusnya) Untuk kali pertama, aku benar-benar merasa…ingin menyerah. Banyak tempat pulang disana. Memeluk, menenangkan, melegakan. Terkadang menyalurkan energi, hingga lelah itu sendiri. Sampai kapan mereka mampu kokoh menaungi? Sampai kapan mereka teguh melindungi? Akankah harapan itu memiliki ruang? Bersama tenaga, usia, dan waktunya yang ikut berkurang. Bagaimana tempat pulang menanggapi badai di luar? Bagaimana sebuah tempat pulang menjelaskan rusaknya jalan? Sedangkan ia hanya mampu melihat, mendengar tanpa merasakan. Bagaimana, aku menjelaskannya? Pada akhirnya, apa yang aku punya hanya setumpukan tanya. Lagi. Jelaskan bagaimana bisa setiap tujuan memiliki batasan dan patokan?   Bagaimana bisa semesta menciptakan garis tujunya sendiri? Bukankah menjadi bahagia jauh lebih penting dari tujuan itu sendiri? Banyak yang memberikan doa dan harapannya dengan kalimat yang begitu merdu dan manis, namun tidak ada satupun yang mampu membuat gar...

TANYA

  TANYA (Pada Nama Diri yang Samar) Sejak awal tulisan ini lahir, yang dibayangkan hanyalah celah dimana cahaya dapat masuk meski tuan rumah tidak membuka jendela beserta tirainya, tidak membuka pintu bahkan kuncinya. Bagaimana dan siapa yang mempunyai tenaga untuk mampu menembus benteng yang sejak mula sudahlah berdiri kokoh tanpa aba-aba. Diri yang tercecer mencari bentuk yang sesungguhnya, sedang tiada satupun petunjuk atau yang mampu ditunjuk tuk menuntun dirimbanya tanya. Ada sedikit yang menggelitik memaksa agar tanpa malu mengutarakan pada semesta. Namun kekuatan darimana yang dipunya untuk melawan kerasnya ia? Jika tanpa pegangan? Tanpa penopang? Tanpa teman yang menggenggam tangan agar tak tergelincir hingga jatuh begitu dalam. Atas nama diri yang samar, kutantang siapapun yang mencoba mengetuk. Terlalu banyak kekosongan yang didapat dengan mengikuti aturan yang dibuat manusia. Hingga mendapati suatu ujung yang selalu sama saja. Sampai lapisan keberapa mereka mampu...