Langsung ke konten utama

Pernyataan Kesekian

 

PERNYATAAN KESEKIAN

(Sebuah seni penerimaan)


Untuk pernyataan kesekian, tidak akan ada lembaran yang terbuka sebelum mampu mempertanggungjawabkan bagian sebelumnya. Keliru atau tidak, logika dan rasa memang tak mau bekerja sama. Pernyataan yang harusnya menyelamatkan namun seakan menjadi boomerang. Menutup secara paksa memang tidak akan mempermudah kerelaan. Tapi jika tidak dipaksa, tidak akan ada jalan yang terbuka. Jika tidak dipaksa, kita tidak akan pernah bisa. Akan terus ada parfum yang jauh dan jauh lebih harum dari yang kita pakai. Namun menggantinya berulang-ulang membuat kita serasa hilang. Kita akan kehilangan diri kita yang sesungguhnya. Apa yang harusnya menjadi ciri khas kita dan apa yang seharusnya bisa kita banggakan setiap saatnya.

Dengan banyaknya perjalanan yang ditempuh membuat kita sadar bahwa adanya masa lampau ialah agar kita mampu memahami masa depan. Kita memang harus terbentur berulang kali agar sadar akan kekuatan yang kita milikki. Kita mesti terluka agar sadar akan pentingnya melindungi diri. Sebelum menjamah semua ranah hidup yang kita punya, hal-hal yang menyakitkan harus segera dilepaskan. Setiap orang paham bahwa dibelenggu bukanlah sesuatu yang menyenangkan. Setiap orangpun paham bahwa dibawa pada keadaan yang sudah habis masanya adalah tidak wajar.

Sayangnya, bukan kuasa untuk memilah dan memilih yang dirasa. Bukan kuasa akan akhir sebuah pertunjukkan manusia. Semestalah yang punya kenyataannya. Tuhan-lah yang menentukkan epilognya. Meskipun begitu, kita tetaplah kita yang harus terus berusaha. Lebih baik mati di perjalanan daripada terkurung dalam jeruji. Sibuklah mencari sesuatu yang belum kita punya. Tapi tetap bersyukurlah akan segala yang ada. Temukan diri dalam versi terbaik, agar dapat ditemukan dalam versi terbaik oleh orang yang baik. Buatlah banyak pertanyaan dan temukan jawabnya. Biarkan pengetahuan membuat kita menjadi kaya hati. Biarkan pengalaman membuat kita lebih bermakna dan berharga. Membuat kita lebih menghargai proses di depan mata.

 

Mei, 2021.

 

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

SYAIR PAYODA

  SYAIR PAYODA (Petinggi Yang Tak Tahu Kendali) Di bagian ini ada sebuah tanya yang entah kapan dan dimana bisa ditemui jawabnya. Dengan segala usaha, berharap saban hari gamang yang terus terngiang-ngiang segera menghilang. Sudah tidak kuasa menempa rasa yang tak jelas rupanya, jenisnya, isinya, bentuknya bahkan adanya.  Ketika harap diri saja yang dipunya, kiranya tidak begitu mengkhawatirkan karena segala risiko dirilah yang menanggungnya. Tapi ketika terdapat harapan orang lain yang bergantung pada kita, seakan beban yang diterima jauh lebih berat dari biasanya. Saya pernah mendengar dan meyakini bahwa cara paling aman untuk meringankan diri adalah dengan tidak berharap pada siapapun dan tidak menanggung harap siapapun. Cara paling aman untuk menghindari sebuah patah adalah dengan tidak mempunyai tanggung jawab membahagiakan seseorang dan dibahagiakan seseorang. Sebuah timbal balik yang harusnya terisi oleh saling dan seimbang. Namun saya tahu, tidak pernah ada yang be...

BATAS

- BATAS- (Bagaimana untuk aku mampu menembusnya) Untuk kali pertama, aku benar-benar merasa…ingin menyerah. Banyak tempat pulang disana. Memeluk, menenangkan, melegakan. Terkadang menyalurkan energi, hingga lelah itu sendiri. Sampai kapan mereka mampu kokoh menaungi? Sampai kapan mereka teguh melindungi? Akankah harapan itu memiliki ruang? Bersama tenaga, usia, dan waktunya yang ikut berkurang. Bagaimana tempat pulang menanggapi badai di luar? Bagaimana sebuah tempat pulang menjelaskan rusaknya jalan? Sedangkan ia hanya mampu melihat, mendengar tanpa merasakan. Bagaimana, aku menjelaskannya? Pada akhirnya, apa yang aku punya hanya setumpukan tanya. Lagi. Jelaskan bagaimana bisa setiap tujuan memiliki batasan dan patokan?   Bagaimana bisa semesta menciptakan garis tujunya sendiri? Bukankah menjadi bahagia jauh lebih penting dari tujuan itu sendiri? Banyak yang memberikan doa dan harapannya dengan kalimat yang begitu merdu dan manis, namun tidak ada satupun yang mampu membuat gar...

TANYA

  TANYA (Pada Nama Diri yang Samar) Sejak awal tulisan ini lahir, yang dibayangkan hanyalah celah dimana cahaya dapat masuk meski tuan rumah tidak membuka jendela beserta tirainya, tidak membuka pintu bahkan kuncinya. Bagaimana dan siapa yang mempunyai tenaga untuk mampu menembus benteng yang sejak mula sudahlah berdiri kokoh tanpa aba-aba. Diri yang tercecer mencari bentuk yang sesungguhnya, sedang tiada satupun petunjuk atau yang mampu ditunjuk tuk menuntun dirimbanya tanya. Ada sedikit yang menggelitik memaksa agar tanpa malu mengutarakan pada semesta. Namun kekuatan darimana yang dipunya untuk melawan kerasnya ia? Jika tanpa pegangan? Tanpa penopang? Tanpa teman yang menggenggam tangan agar tak tergelincir hingga jatuh begitu dalam. Atas nama diri yang samar, kutantang siapapun yang mencoba mengetuk. Terlalu banyak kekosongan yang didapat dengan mengikuti aturan yang dibuat manusia. Hingga mendapati suatu ujung yang selalu sama saja. Sampai lapisan keberapa mereka mampu...