Langsung ke konten utama

BIANGLALA

 

BIANGLALA

(Eps.1 Manusia Pertama)


Zura tertunduk lesu memandangi barang-barang dalam kotak kardus dilengannya. Berjalan gontai meninggalkan ruangan. Perempuan berambut panjang berwarna cokelat  kian menghampirinya. Zura menghentikan langkahnya. Perempuan tersebut mendekatkan wajahnya pada telinga Zura. Ia berbisik, “Gue bilang gausah terlalu kerja keras Ra. Sampah kaya lo perlu disingkirin supaya gak ganggu jalan gue.” Zura mengangkat kepalanya, mata yang Zura tatap saat ini seakan mengisyaratkan bahwa kehidupan memang mengerikan. Demi sesuatu yang diinginkan, manusia bisa memperalat segala hal.

Zura menyusuri jalan kota Jakarta. Suasana yang tidak pernah memilah dan memilih siapa saja yang ada dipihaknya. Sepintas, ia ingin tahu apa saja yang tengah dipikirkan orang-orang. Adakah sebagian kecil yang mampu membuat mereka merasa nyaman dengan apa yang dimilikki? Adakah cerita-cerita menyakitkan yang mereka simpan dan tutupi tiap hari?

Suara dering telepon membuyarkan lamunannya, tertera nama ‘Ibu’ disana. Zura menghela kembali nafasnya. Ia sudah sangat hafal apa yang akan disampaikan ibunya. Ia tidak memiliki tenaga untuk berbicara. Tidak punya tenaga untuk menjelaskan keadaannya. Zura hanya memandangi teleponnya hingga dering tersebut tidak lagi berbunyi. Namun tertinggal satu pesan disana,  

Zura, segera kirim uang, ya. Uang kemarin gak cukup kemana-mana.

Padahal, uang yang Zura kirim minggu lalu adalah sisa tabungannya. Entah bagaimana menjelaskan pada ibunya bahwa Zura baru saja kehilangan pekerjaannya. Tidak akan ada kata-kata semangat yang keluar dari mulut ibunya, ia tahu betul. Justru yang akan ia dapati hanyalah sebuah kalimat yang menyakiti.

Tiba-tiba ia melihat sebuah mobil sport melaju dengan kencang didepannya. Entah mungkin si pengemudi mabuk membawa mobil keluar dari garis jalan hingga hendak menabraknya. Refleks Zura langsung membantingkan tubuhnya kesamping demi menghindari mobil tersebut. Kesialan kesekian kalinya untuk hari ini. Lutut, tangan bahkan dahinya berdarah. Ada air yang keluar dari pelupuk mata. Namun luka dalam hatinya jauh lebih menyiksa dibanding darah yang keluar dari tubuhnya. Dunia memang menggila. Si pengemudi bahkan tidak berhenti dan menolongnya, ia hanya dapati sebuah rintik air yang turun membuat lukanya semakin terasa. Sialnya lagi, ia selalu tidak memiliki payung untuk melindungi tubuhnya. Baiklah, semesta memang tidak pernah berpihak padanya.

Zura pun meneruskan perjalannya. Namun ia berbalik arah dan kembali menuju rooftop gedung perusahaan bekas tempatnya bekerja. Zura sadar dia hanya manusia, dengan keputusasaan yang wajar dimiliki manusia lainnya. Zura melihat pemandangan kota dari atas rooftop, ia tidak tahu lagi apa yang harus dilakukan. Haruskah ia hentikan perjalanan? Haruskah ia mengakhiri kehidupan? Apakah itu hal yang wajar? Zurapun menaiki pinggiran rooftop yang setingkat lebih tinggi dari lantai dasar.

“Tunjukkan bagian mana dari takdir yang membahagiakan?!!”, Zura berteriak menutupi pinggir mulutnya dangan tangan. Lelah dengan semua permainan kehidupan.

“Lo gak harus teriak supaya Tuhan denger,” suara laki-laki kian mengacaukan suasana. Zura membalikkan badannya. “Kalo mau bunuh diri jangan disini. Pindah gedung sebelah. Gue gamau diinterogasi sebagai saksi. Repot,” lanjut lelaki tersebut. Zura hanya terdiam cukup lama. Memandangi lelaki tersebut dengan baju yang sama basah dengannya, dengan rambut hitam berpomade yang rusak karena air hujan yang membasahinya. Lelaki tersebut memandangi luka di dahi, tangan dan lutut Zura secara berganti.

“Pilih. Mau mati disini sekarang? Atau terima uluran tangan gue?”

Zura hanya terdiam dan menatap mata lelaki itu. Matanya yang dalam, namun tanpa emosi. Apakah tangan itu adalah jawaban dari semua pertanyaan yang ditunggunya? Akankah seseorang yang tidak dikenalnya mampu membawa pada dunia yang sesungguhnya? Dengan tangan gemetar, Zura meraih tangan lelaki tersebut. Lelaki itupun menunjukkan senyum puas.

Seperti itulah Zura bertemu Azha. Untuk pertama, Zura menerima uluran tangan manusia dan begitu memercayainya.

 

Bersambung...

Komentar

Postingan populer dari blog ini

SYAIR PAYODA

  SYAIR PAYODA (Petinggi Yang Tak Tahu Kendali) Di bagian ini ada sebuah tanya yang entah kapan dan dimana bisa ditemui jawabnya. Dengan segala usaha, berharap saban hari gamang yang terus terngiang-ngiang segera menghilang. Sudah tidak kuasa menempa rasa yang tak jelas rupanya, jenisnya, isinya, bentuknya bahkan adanya.  Ketika harap diri saja yang dipunya, kiranya tidak begitu mengkhawatirkan karena segala risiko dirilah yang menanggungnya. Tapi ketika terdapat harapan orang lain yang bergantung pada kita, seakan beban yang diterima jauh lebih berat dari biasanya. Saya pernah mendengar dan meyakini bahwa cara paling aman untuk meringankan diri adalah dengan tidak berharap pada siapapun dan tidak menanggung harap siapapun. Cara paling aman untuk menghindari sebuah patah adalah dengan tidak mempunyai tanggung jawab membahagiakan seseorang dan dibahagiakan seseorang. Sebuah timbal balik yang harusnya terisi oleh saling dan seimbang. Namun saya tahu, tidak pernah ada yang be...

BATAS

- BATAS- (Bagaimana untuk aku mampu menembusnya) Untuk kali pertama, aku benar-benar merasa…ingin menyerah. Banyak tempat pulang disana. Memeluk, menenangkan, melegakan. Terkadang menyalurkan energi, hingga lelah itu sendiri. Sampai kapan mereka mampu kokoh menaungi? Sampai kapan mereka teguh melindungi? Akankah harapan itu memiliki ruang? Bersama tenaga, usia, dan waktunya yang ikut berkurang. Bagaimana tempat pulang menanggapi badai di luar? Bagaimana sebuah tempat pulang menjelaskan rusaknya jalan? Sedangkan ia hanya mampu melihat, mendengar tanpa merasakan. Bagaimana, aku menjelaskannya? Pada akhirnya, apa yang aku punya hanya setumpukan tanya. Lagi. Jelaskan bagaimana bisa setiap tujuan memiliki batasan dan patokan?   Bagaimana bisa semesta menciptakan garis tujunya sendiri? Bukankah menjadi bahagia jauh lebih penting dari tujuan itu sendiri? Banyak yang memberikan doa dan harapannya dengan kalimat yang begitu merdu dan manis, namun tidak ada satupun yang mampu membuat gar...

TANYA

  TANYA (Pada Nama Diri yang Samar) Sejak awal tulisan ini lahir, yang dibayangkan hanyalah celah dimana cahaya dapat masuk meski tuan rumah tidak membuka jendela beserta tirainya, tidak membuka pintu bahkan kuncinya. Bagaimana dan siapa yang mempunyai tenaga untuk mampu menembus benteng yang sejak mula sudahlah berdiri kokoh tanpa aba-aba. Diri yang tercecer mencari bentuk yang sesungguhnya, sedang tiada satupun petunjuk atau yang mampu ditunjuk tuk menuntun dirimbanya tanya. Ada sedikit yang menggelitik memaksa agar tanpa malu mengutarakan pada semesta. Namun kekuatan darimana yang dipunya untuk melawan kerasnya ia? Jika tanpa pegangan? Tanpa penopang? Tanpa teman yang menggenggam tangan agar tak tergelincir hingga jatuh begitu dalam. Atas nama diri yang samar, kutantang siapapun yang mencoba mengetuk. Terlalu banyak kekosongan yang didapat dengan mengikuti aturan yang dibuat manusia. Hingga mendapati suatu ujung yang selalu sama saja. Sampai lapisan keberapa mereka mampu...