Setiap menghakimi, aku menampar diri dengan ketidaksadaran bahwa manusia dibentuk dari apa yang ia kemas di masa lalu. Apa yang menjadikannya, adalah apa yang ia terima dari ketidakadilan yang menguras seluruh energinya. Semesta, dengan candanya yang menyakitkan, mendadak menakjubkan karena mampu membawa pada dunia yang menyenangkan, mungkin. Sebab takaran yang ia siapkan untuk menyebutnya ‘senang’ tidak akan pernah bisa sama dengan yang lain. Ia, memiliki kantongnya sendiri untuk membawanya kelana sana-sini.
Dan aku,
ini yang sejatinya terjadi.
Setelah menelan waktu yang berimbang dengan luka yang nyala padam. Ia terbentuk. Aku yang belasan tahun lalu mengetahui apa itu asing, mengasingkan dan diasingkan akhirnya mampu mencerna tiap detik yang berjalan setelahnya dengan begitu rinci. Sebagai seorang yang dahulu tidak mempunyai tenaga dan kesehatan yang cukup baik, paras yang tidak semenawan orang-orang (bahkan dirasa hingga detik tulisan ini dibaca), aku paham bahwa kata ‘kecil’ menjadi kata utama yang ada dipikir mereka tanpa perlu menyebutkannya secara gamblang. Mereka dengan seleksi alamnya membuat aku tersingkir. Mereka dengan segala aksinya membuat aku menyingkir.
Aku menjatuhkan diri sendiri karena luka-luka yang katanya menjadikan dewasa. Lalu aku berdiri sekuat tenaga dengan turut membawanya. Aku memaksakan dan amat memaksakan untuk mampu menggendong tubuh yang luluh lantak. Sempoyongan berjalan bahkan ter/di-paksa berlari. Sedikit demi sedikit aku mampu menunjukkan akan apa kemampuan yang aku punya. Meski remuk (sebenarnya), mereka yang melihat tidak akan pernah tahu bagaimana itu ada. Mereka tidak pernah tahu, apa yang sesungguhnya aku bawa.
Ternyata, apresiasi kecil yang kala itu aku terima, menjadikan aku candu akannya. Merasa penting dan dibutuhkan menjadikan aku kalap akan pengakuan. Meskipun aku tidak mengatakan dan berusaha menghindari, tapi sesungguhnya itu yang terjadi. Aku yang kala itu tidak mempunyai ruang, akhirnya terus-menerus memupuk diri menempatkan diri disetiap inci bumi. Aku, haus akan penerimaan.
Menyenangkan dan menyedihkan dalam waktu yang sama. Ternyata, aku tidak sepenuhnya mengetahui yang selama ini aku punya. Menjalani terang hingga gelap dunia dengan penuh kerendahan diri. Merasa kecil dan kecil tiap kali melihat kemewahan jiwa raga yang orang lain punya. Merasa tidak layak tiap kali menjemput realita. Ruang kecil dikepala yang kusut tanya tentang peran diri dalam luasnya bumi. Apakah mereka senang? Apakah aku dibutuhkan? Apakah aku penting? Padahal menjadi bahagia jauh lebih baik dibanding semua yang digoreskan tulisan ini sejak awal.
Aku menyadari,
meski pada akhirnya mengerti, apa yang terbentuk sudah melekat dan menjadikanku yang hari ini.
Aku menyadari,
meski pada akhirnya tahu, merayakannya tidak akan bisa semudah katanya.
20:39
20/11/23
Komentar
Posting Komentar