Langsung ke konten utama

Bagaimana ‘itu’ dibentuk?

Setiap menghakimi, aku menampar diri dengan ketidaksadaran bahwa manusia dibentuk dari apa yang ia kemas di masa lalu. Apa yang menjadikannya, adalah apa yang ia terima dari ketidakadilan yang menguras seluruh energinya. Semesta, dengan candanya yang menyakitkan, mendadak menakjubkan karena mampu membawa pada dunia yang menyenangkan, mungkin. Sebab takaran yang ia siapkan untuk menyebutnya ‘senang’ tidak akan pernah bisa sama dengan yang lain. Ia, memiliki kantongnya sendiri untuk membawanya kelana sana-sini. 

Dan aku,
ini yang sejatinya terjadi. 

Setelah menelan waktu yang berimbang dengan luka yang nyala padam. Ia terbentuk. Aku yang belasan tahun lalu mengetahui apa itu asing, mengasingkan dan diasingkan akhirnya mampu mencerna tiap detik yang berjalan setelahnya dengan begitu rinci. Sebagai seorang yang dahulu tidak mempunyai tenaga dan kesehatan yang cukup baik, paras yang tidak semenawan orang-orang (bahkan dirasa hingga detik tulisan ini dibaca), aku paham bahwa kata ‘kecil’ menjadi kata utama yang ada dipikir mereka tanpa perlu menyebutkannya secara gamblang. Mereka dengan seleksi alamnya membuat aku tersingkir. Mereka dengan segala aksinya membuat aku menyingkir. Aku menjatuhkan diri sendiri karena luka-luka yang katanya menjadikan dewasa. Lalu aku berdiri sekuat tenaga dengan turut membawanya. Aku memaksakan dan amat memaksakan untuk mampu menggendong tubuh yang luluh lantak. Sempoyongan berjalan bahkan ter/di-paksa berlari. Sedikit demi sedikit aku mampu menunjukkan akan apa kemampuan yang aku punya. Meski remuk (sebenarnya), mereka yang melihat tidak akan pernah tahu bagaimana itu ada. Mereka tidak pernah tahu, apa yang sesungguhnya aku bawa. Ternyata, apresiasi kecil yang kala itu aku terima, menjadikan aku candu akannya. Merasa penting dan dibutuhkan menjadikan aku kalap akan pengakuan. Meskipun aku tidak mengatakan dan berusaha menghindari, tapi sesungguhnya itu yang terjadi. Aku yang kala itu tidak mempunyai ruang, akhirnya terus-menerus memupuk diri menempatkan diri disetiap inci bumi. Aku, haus akan penerimaan. 

Menyenangkan dan menyedihkan dalam waktu yang sama. Ternyata, aku tidak sepenuhnya mengetahui yang selama ini aku punya. Menjalani terang hingga gelap dunia dengan penuh kerendahan diri. Merasa kecil dan kecil tiap kali melihat kemewahan jiwa raga yang orang lain punya. Merasa tidak layak tiap kali menjemput realita. Ruang kecil dikepala yang kusut tanya tentang peran diri dalam luasnya bumi. Apakah mereka senang? Apakah aku dibutuhkan? Apakah aku penting? Padahal menjadi bahagia jauh lebih baik dibanding semua yang digoreskan tulisan ini sejak awal. 

Aku menyadari, 
meski pada akhirnya mengerti, apa yang terbentuk sudah melekat dan menjadikanku yang hari ini. 

Aku menyadari, 
meski pada akhirnya tahu, merayakannya tidak akan bisa semudah katanya. 

20:39 
20/11/23

Komentar

Postingan populer dari blog ini

SYAIR PAYODA

  SYAIR PAYODA (Petinggi Yang Tak Tahu Kendali) Di bagian ini ada sebuah tanya yang entah kapan dan dimana bisa ditemui jawabnya. Dengan segala usaha, berharap saban hari gamang yang terus terngiang-ngiang segera menghilang. Sudah tidak kuasa menempa rasa yang tak jelas rupanya, jenisnya, isinya, bentuknya bahkan adanya.  Ketika harap diri saja yang dipunya, kiranya tidak begitu mengkhawatirkan karena segala risiko dirilah yang menanggungnya. Tapi ketika terdapat harapan orang lain yang bergantung pada kita, seakan beban yang diterima jauh lebih berat dari biasanya. Saya pernah mendengar dan meyakini bahwa cara paling aman untuk meringankan diri adalah dengan tidak berharap pada siapapun dan tidak menanggung harap siapapun. Cara paling aman untuk menghindari sebuah patah adalah dengan tidak mempunyai tanggung jawab membahagiakan seseorang dan dibahagiakan seseorang. Sebuah timbal balik yang harusnya terisi oleh saling dan seimbang. Namun saya tahu, tidak pernah ada yang be...

BATAS

- BATAS- (Bagaimana untuk aku mampu menembusnya) Untuk kali pertama, aku benar-benar merasa…ingin menyerah. Banyak tempat pulang disana. Memeluk, menenangkan, melegakan. Terkadang menyalurkan energi, hingga lelah itu sendiri. Sampai kapan mereka mampu kokoh menaungi? Sampai kapan mereka teguh melindungi? Akankah harapan itu memiliki ruang? Bersama tenaga, usia, dan waktunya yang ikut berkurang. Bagaimana tempat pulang menanggapi badai di luar? Bagaimana sebuah tempat pulang menjelaskan rusaknya jalan? Sedangkan ia hanya mampu melihat, mendengar tanpa merasakan. Bagaimana, aku menjelaskannya? Pada akhirnya, apa yang aku punya hanya setumpukan tanya. Lagi. Jelaskan bagaimana bisa setiap tujuan memiliki batasan dan patokan?   Bagaimana bisa semesta menciptakan garis tujunya sendiri? Bukankah menjadi bahagia jauh lebih penting dari tujuan itu sendiri? Banyak yang memberikan doa dan harapannya dengan kalimat yang begitu merdu dan manis, namun tidak ada satupun yang mampu membuat gar...

TANYA

  TANYA (Pada Nama Diri yang Samar) Sejak awal tulisan ini lahir, yang dibayangkan hanyalah celah dimana cahaya dapat masuk meski tuan rumah tidak membuka jendela beserta tirainya, tidak membuka pintu bahkan kuncinya. Bagaimana dan siapa yang mempunyai tenaga untuk mampu menembus benteng yang sejak mula sudahlah berdiri kokoh tanpa aba-aba. Diri yang tercecer mencari bentuk yang sesungguhnya, sedang tiada satupun petunjuk atau yang mampu ditunjuk tuk menuntun dirimbanya tanya. Ada sedikit yang menggelitik memaksa agar tanpa malu mengutarakan pada semesta. Namun kekuatan darimana yang dipunya untuk melawan kerasnya ia? Jika tanpa pegangan? Tanpa penopang? Tanpa teman yang menggenggam tangan agar tak tergelincir hingga jatuh begitu dalam. Atas nama diri yang samar, kutantang siapapun yang mencoba mengetuk. Terlalu banyak kekosongan yang didapat dengan mengikuti aturan yang dibuat manusia. Hingga mendapati suatu ujung yang selalu sama saja. Sampai lapisan keberapa mereka mampu...