Langsung ke konten utama

Jakarta dan Kita

Jakarta & Kita 
(tentang terang yang terlihat karena gelap yang pekat)

Terhitung tiga tahun, sejak mulai bersarangnya suatu tualang. Bising, asing, amat pusing.

Jelas sekali tergambar. Bagaimana awal memang begitu menyesakkan. Linglung-bingung. Pakaianku aneh gak, ya? Responku harus bagaimana, ya? Kalau gak paham tanya siapa, ya?
Serta pertanyaan tiap hari yang tidak pernah hilang hingga kini, "makan apa ya hari ini?."

Di malam-malam yang memupuk kesedihan, rindu rumah untuk pulang, kelelahan, berdiam dalam ruangan yang pengap dan bisu.

Tapi waktu memang memberikan jawaban, ia mempertemukan aku dengan tiap manusia, tiap hal, dan tiap inci yang tanpa pernah aku duga - aku suka. Meski seringkali, aku berdalih dengan kalimat bahwa aku cukup muak. 

Disini- setelah perjalanan panjang, hari demi hari yang aku temui dan lalui sambil belajar. Ternyata, terlalu banyak hal yang semakin aku cari tahu, semakin banyak yang aku tidak tahu.

Aku kian tumbuh. Menjadi cukup tangguh. Seringkali memang rapuh dan penuh rusuh.

Disini- bagaimana ya aku mendeskripsikannya? Ditipu hingga berjuta, dihipnotis (katanya), homesick, kewalahan, sakit berulang, kelola waktu dan uang, nyasar, meramahkan diri dengan transportasi, upaya menghasilkan recehan hingga menginjakkan kaki ke tiap sudut kota. Bagaimana aku mengutarakannya?

Disini-hanya disini, tiap detik dan langkah yang aku ambil, kemanapun aku pergi, terlalu banyak hidup yang aku lihat (dengan atau tanpa sadar) begitu membuat aku tertampar. Keras dan tegasnya kota, membuat aku paham bahwa manusia selalu mampu jauh lebih kuat dari apa yang mereka kira dan duga.

Untuk segala yang harus ditinggal dan tertinggal, semoga temu mampu menyisihkan ruang agar kita mampu kembali bertamu. Berbincang dan melakukan kegiatan yang selalu kita rayakan.

Meski terimakasih tidak pernah cukup. Semoga apapun itu, aku diberikan layak dan sehat agar bisa kembali untuk mencari atau menjadi versi terbaik yang aku punya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

SYAIR PAYODA

  SYAIR PAYODA (Petinggi Yang Tak Tahu Kendali) Di bagian ini ada sebuah tanya yang entah kapan dan dimana bisa ditemui jawabnya. Dengan segala usaha, berharap saban hari gamang yang terus terngiang-ngiang segera menghilang. Sudah tidak kuasa menempa rasa yang tak jelas rupanya, jenisnya, isinya, bentuknya bahkan adanya.  Ketika harap diri saja yang dipunya, kiranya tidak begitu mengkhawatirkan karena segala risiko dirilah yang menanggungnya. Tapi ketika terdapat harapan orang lain yang bergantung pada kita, seakan beban yang diterima jauh lebih berat dari biasanya. Saya pernah mendengar dan meyakini bahwa cara paling aman untuk meringankan diri adalah dengan tidak berharap pada siapapun dan tidak menanggung harap siapapun. Cara paling aman untuk menghindari sebuah patah adalah dengan tidak mempunyai tanggung jawab membahagiakan seseorang dan dibahagiakan seseorang. Sebuah timbal balik yang harusnya terisi oleh saling dan seimbang. Namun saya tahu, tidak pernah ada yang be...

BATAS

- BATAS- (Bagaimana untuk aku mampu menembusnya) Untuk kali pertama, aku benar-benar merasa…ingin menyerah. Banyak tempat pulang disana. Memeluk, menenangkan, melegakan. Terkadang menyalurkan energi, hingga lelah itu sendiri. Sampai kapan mereka mampu kokoh menaungi? Sampai kapan mereka teguh melindungi? Akankah harapan itu memiliki ruang? Bersama tenaga, usia, dan waktunya yang ikut berkurang. Bagaimana tempat pulang menanggapi badai di luar? Bagaimana sebuah tempat pulang menjelaskan rusaknya jalan? Sedangkan ia hanya mampu melihat, mendengar tanpa merasakan. Bagaimana, aku menjelaskannya? Pada akhirnya, apa yang aku punya hanya setumpukan tanya. Lagi. Jelaskan bagaimana bisa setiap tujuan memiliki batasan dan patokan?   Bagaimana bisa semesta menciptakan garis tujunya sendiri? Bukankah menjadi bahagia jauh lebih penting dari tujuan itu sendiri? Banyak yang memberikan doa dan harapannya dengan kalimat yang begitu merdu dan manis, namun tidak ada satupun yang mampu membuat gar...

TANYA

  TANYA (Pada Nama Diri yang Samar) Sejak awal tulisan ini lahir, yang dibayangkan hanyalah celah dimana cahaya dapat masuk meski tuan rumah tidak membuka jendela beserta tirainya, tidak membuka pintu bahkan kuncinya. Bagaimana dan siapa yang mempunyai tenaga untuk mampu menembus benteng yang sejak mula sudahlah berdiri kokoh tanpa aba-aba. Diri yang tercecer mencari bentuk yang sesungguhnya, sedang tiada satupun petunjuk atau yang mampu ditunjuk tuk menuntun dirimbanya tanya. Ada sedikit yang menggelitik memaksa agar tanpa malu mengutarakan pada semesta. Namun kekuatan darimana yang dipunya untuk melawan kerasnya ia? Jika tanpa pegangan? Tanpa penopang? Tanpa teman yang menggenggam tangan agar tak tergelincir hingga jatuh begitu dalam. Atas nama diri yang samar, kutantang siapapun yang mencoba mengetuk. Terlalu banyak kekosongan yang didapat dengan mengikuti aturan yang dibuat manusia. Hingga mendapati suatu ujung yang selalu sama saja. Sampai lapisan keberapa mereka mampu...